|
Agustus 31, 2010 oleh lucky junan subiakto
foto by Nursal
Cerita ini dimulai saat kita sampe di balaikota
1. Ditanya sama penerima tamu, kita jawab mo kirim surat buat gubernur, lalu bro Rio cerita sedikit ttg siapa kita, lalu disuruh langsung ke biro umum di lantai 5, tanpa diminta tanda identitas apapun.. “Silahkan langsung aja mas” katanya. Disuru nulis buku tamu pun ngga…
2. Petisi mustinya masuk ke biro umum dulu, lalu proses lanjut ke tata usaha kegubernuran, baru nyampe ke gubernur (bisa seminggu kali yak). Nah tadi pas lagi di biro umum ternyata kita diarahkan langsung ke TU kegubernuran dengan pengantar dari biro umum… Pangkas birokrasi kan jadinya… “Dimana tempatnya pak?” , “gedung sebelah mas..lantai 2..” , gw sama ecko nengok ke Rio sambil cengar cengir… Tanpa berkata2, sudah jelas kalimat yg tersirat: “kuat jalan gak?” Hihihi..
3. Sampe gedung sebelah dengan beberapa kali ditereakin Rio dari belakang (ketinggalan.. ), perjuangannya belum berakhir. TU nya di lantai 2, dan sebuah tangga melingkar sudah menunggu untuk ditapaki satu persatu.. Hihihi… Gimana gak kram tuh kaki.. Sampe ruangan TU, setelah kita beritahu mau sampaikan surat buat pak gubernur, mereka bilang disiini gak terima surat. Tapi setelah kita kasi liat surat pengantar dari biro umum, dengan ramah mereka langsung proses tanda bukti terima sambil meyakinkan bahwa surat ini akan sampe ke gubernur..
Perjuangan Selesai? Belum. Kan Masih ada prosesi turun tangga… Hehehe…
Perjuangan kita mendapat kemudahan. Petisi yg disampaikan mgkn akan sampai lebih cepat ke pa gubernur karena dah lewatin satu tahap birokrasi. Tapi Rio agak kesulitan.. Karena begitu smpe di lantai dasar, kakinya makin cenat cenut…
Sabar ya bro.. No pain no gain.

foto : bukti penerimaan Petisi oleh Bagian Tata Usaha Pemprov DKI (by Nursal)
keterangan : Ketua RSA, Rio Octaviano, dalam kondisi cidera kaki akibat lakalantas
diceritakan oleh brader Nursal dari GBC (Gapura Biker Community) yang juga anggota Divisi Humas RSA
|